tak ada yang tahu
motor bebek warna hitam itu berhenti di depan sebuah bengkel. ada yang salah dengan ban luar motor itu. ban itu tidak kempes. tapi benjol-benjol seperti kepala pencuri yang dihakimi masa.
“ganti ban luar, mas” kata sang pengendara motor bebek itu.
usianya tak lebih dari 20 tahun. mungkin masih sekolah. tak tahulah. sulit melihat orang masih sekolah atau tidak di jaman edan yang disebut ‘globalisasi’ ini.
“simpan dulu saja disana, bang. aku selesaikan yang ini dulu” sang montir berkata sambil menunjuk motor sport hijau bermerek nama pendekar jepang.
sang montir dari sumatra. mungkin dia orang batak. tak tahulah. susah menentukan orang berasal darimana di jaman gila yang disebut ‘modern’ ini.
“duduklah dulu, bang. atau pilihlah ban luar yang mau kau ganti. daftar harganya mintalah ke gadis di belakang meja itu” sang montir menyarankan.
sang pengendara motor pun mulai memilih ban luar baru untuk menggantikan ban ‘benjol’ miliknya.
“sudah dapat barangnya, bang? aku bisa kerjakan sekarang” tanya sang montir.
“yang ini aja deh, mas” sambil memegang ban luar bermerek.
montir itu pun langsung mengambil ban yang dipegang anak sekolahan itu. ia langsung bekerja mengganti ban luar tersebut. takut ada pekerjaan yang tidak beres, anak sekolahan itu pun duduk di dekat sang montir.
“dimana rumah, bang?” sang montir mulai percakapan.
“di komplek seberang, mas” jawabnya sambil memperhatikan sang montir.
“tak sekolah?” sang montir mulai mencari jawaban dari pertanyaannya.
“ngga lah. sabtu kan libur, mas”
“sekolah dimana memang?”
“saya kuliah”
“oh, saya kira masih sekolah. dimana kuliah? jurusan apa?”
“di UPI. ngambil bahasa inggris”
anak kuliahan itu menyebutkan jurusannya sambil menyumpahi diri sendiri. ia tidak pernah suka akan jurusan yang dia ambil. orang tuanya yang menginginkan dia untuk memilih jurusan bahasa inggris. biar bisa menghadapi tantangan global. katanya. padahal menghitung 1 sampai 100 dalam bahasa inggris saja belum lancar. ia tidak bisa bahasa inggris. kalau boleh memilih, ia akan memilih masuk jurusan seni musik. dia sudah pintar main stidaknya 4 alat musik pada umur 10 tahun. yah, ia ingin menjadi ahli di kehidupannya.
“wah pintar cakap bahasa inggris kau, bang. aku pun kuliah” sang montir takjub.
anak kuliahan tersenyum.
“semoga saja begitu, mas” pikirnya dalam hati.
“aku pun kuliah. di ITB” lanjut sang montir.
butuh 2 detik untuk mencerna kata-kata yang baru dikeluarkan sang montir. detik pertama ia tidak percaya. seorang montir, belepotan oli, kotor, dan bahkan mungkin tidak mandi adalah seorang mahasiswa ITB? bagaimana bisa?
detik kedua ia melihat mata sang montir. dan semua teorinya runtuh. sang montir jujur. itu terlihat dari matanya.
“ngambil apa, mas?” kata-kata sang anak kuliahan itu keluar begitu saja menerjang keterkejutannya. mencari jawaban atas ketidak percayaannya.
“matematika. aku yang paling nakal disana, bang. aku tak heran abang kaget. banyak yang tak percaya” jawab sang montir menjelaskan sambil tersenyum.
ahh.. anak ITB hampir DO mungkin. pikir sang anak kuliahan dalam hatinya.
“tak pernah suka aku kuliah di bidang itu. lebih baik aku bekerja jadi montir saja daripada berkutat dengan si ‘x’ yang tak kunjung ketemu itu” sang montir mulai bercerita.
“kenapa, mas? kan sayang, susah masuk ITB” tanya anak komplek itu heran.
“aku sudah pintar matematika sejak SD. aku lahap pelajaran kelas 3 SMP saat aku kelas 6 SD. aku telan bulat-bulat pelajaran kelas 3 SMA saat aku kelas 3 SMP. aku sudah mahir matematika sejak dulu. untuk apa aku belajar lagi? tak ada guna. aku inginnya belajar musik atau otomotif seperti ini. soalnya aku belum mahir dalam bidang ini” jawab sang montir panjang. sang anak komplek itu pun takjub.
“kalau aku belajar apa yang aku sudah bisa, aku tak bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang hidup, bang. makanya aku kepingin belajar otomotif dan musik. karena aku belum mahir” lanjut sang montir sambil mengencangkan baut roda. pekerjaannya hampir selesai.
sang anak komplek itu tidak menyangka jawaban sang montir. mereka bertolak belakang. sang montir ingin mencari dan mempelajari segala macam bidang agar bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang hidup. sedangkan ia ingin menjadi ahli di kehidupannya dengan mempelajari apa yang ia telah kuasai.
“selesai, bang. pembayarannya langsung ke gadis di belakang meja tadi”
mana yang lebih baik? tak ada yang tahu.
Bandung, 04102009. 01.56 am
Like this:
~ by ryan aditya on October 3, 2009.
Posted in short-stories
Tags: bengkel, ITB, kuliahan, montir, UPI



like this!!
inspired uy..
Haha, keren keren. Cuman tadinya gue mikir kalo yang dimaksud dengan ITB tuh Institut Tambal Ban loh. wkwkwkwk
Ryan, this is SO VERY WELL written! Bahasanya cermat dan enak dibaca, alur cerita dan pengembangan naratifnya padat dan memesona. I enjoyed reading it. It’s of a publishable quality! Kenapa tidak dicoba dikirim ke media masa?
Wew..g nyangka lu bs nulis..gw fkr cm bs curhat..hhe..bgs tau..publish ja k majalah ato koran..
mmm..curiga nasib gw sama kayak tu tukang tambal ban..hhe
tapii so far asikk lahh.. two thumbs up!!
well, aku pun sama-sama terkejut. jadi pengen belajar bidang laen nih.